Setiap hari, tubuh kita terpapar oleh polusi, sinar UV, stres, dan makanan cepat saji yang semuanya bisa menghasilkan radikal bebas , molekul tidak stabil yang bisa merusak sel tubuh.
Tapi tenang, tubuh punya pasukan pelindung alami: antioksidan.
Menurut Peraturan BPOM Nomor 11 tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan, Antioksidan (Antioxidant) adalah BTP untuk mencegah atau menghambat kerusakan pangan akibat oksidasi, suatu proses yang dapat menyebabkan kerusakan pada makanan, seperti perubahan warna, bau, rasa, hingga penurunan nilai gizi.
Namun selain untuk mencegah kerusakan pangan, zat ini sempat dianggap sebagai “peluru ajaib” yang diyakini mampu membantu mencegah berbagai masalah kesehatan.
Antioksidan adalah senyawa yang berfungsi untuk menetralkan radikal bebas, studi terbaru telah membuktikan bahwa antioksidan berperan dalam mencegah atau menunda munculnya beberapa penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung.
Dari Mana Sumber Antioksidan?
Banyak makanan sehari-hari mengandung antioksidan tinggi. Berikut beberapa sumber utamanya:
● Buah-buahan: Blueberry, stroberi, jeruk, anggur merah
● Sayuran hijau: Bayam, brokoli, kale
● Rempah alami: Kunyit, jahe, kayu manis
● Minuman: Teh hijau, kopi, jus delima
● Cokelat hitam: Semakin tinggi kadar kakao, semakin kaya antioksidan
Di era ketika konsumen semakin peduli dengan gaya hidup sehat dan kandungan gizi makanan, istilah "antioksidan" kian populer.
Dengan tren konsumen yang makin cerdas, produk Anda perlu lebih dari sekadar rasa enak dan kemasan menarik.
Sebagai pelaku industri pangan, produsen herbal, atau UMKM minuman kesehatan, memahami dan mengukur kandungan antioksidan dalam produk adalah langkah strategis untuk menjawab tren pasar dan membangun kepercayaan konsumen. Buktikan kualitas dan kandungan gizi produk Anda melalui uji laboratorium, dan bawa brand Anda naik kelas.
